nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

1 american dream (1)

nat to destinesia — Tags: ,  

Banyak orang sukses memberikan tips sukses untuk mewujudkan impian: Tuangkan impian dalam bentuk visual. Cara ini konon sudah terbukti manjur untuk diwujudkan.

Belum lama, saya diingatkan untuk menuliskan impian. Dan dua bulan lalu, saya menuliskannya, di blog ini juga, dalam posting Is it too crazy to have dreams?

Ada rasa cemas waktu menuliskan posting impian itu, membayangkan gimana kalau ga kesampean, malunya mau taruh dimana, dsb.

Tapi rupanya, kesempatan itu memang akhirnya datang.

Senin 20 Oktober siang, dengan tangan kanan memegang secarik kertas putih kecil dari U.S. Embassy yang memastikan bahwa visa jurnalis saya akan keluar sehari kemudian, pikiran segera melayang ke hari dimana saya menulis posting impian. Tuhan, inikah waktunya?

hari kedua di Boston, nyasar di kota.

second day; lost in downtown

Akhir Juni, sekitar 4 bulan lalu, manajemen radio saya membuka ‘kompetisi internal’ untuk pengiriman satu orang kru mengikuti undangan U.S. Embassy dalam program training dan peliputan Pilpres AS. Kompetisi ini bebas diikuti oleh seluruh penyiar, produser, reporter, dan newswriter, baik dari Program Dept maupun News Dept.

Sebagai info, biasanya di radio kami, setiap peliputan tidak pernah diberikan selain kepada reporter dari News Dept, sementara penyiar/produser yang notabene dari Program Dept, tidak pernah sekalipun diberi kesempatan meliput berbagai event, kecuali event2 tertentu yang dinilai oleh sebagian kalangan “lebih ringan” dan tidak punya “news value”.

Lupakan sejenak urusan internal radio, kita kembali ke isu kompetisi internal yang thankfully akhirnya dilakukan manajemen radio saya. Syarat keikutsertaannya sederhana: membuat surat pernyataan keikutsertaan; menulis sebuah paper tentang Pilpres AS; dan mengirimkan CV. Hingga hari terakhir batas waktu yang ditentukan, saya diberitahu bahwa hanya ada 3 orang yang mengajukan persyaratan itu ke HRD, termasuk saya.

Waktu berlalu, saya ga pernah dengar kabar hasil keputusan kompetisi itu. Ketika semakin mendekati Pilpres AS 4 November, prosesor otak saya secara otomatis “memasukkan” dokumen yang saya kirim ke HRD beberapa bulan lalu itu ke dalam folder FAILED atau GAGAL, menyatu dengan file2 aplikasi beasiswa short courses lain yang sejak setahun terakhir mulai saya kirimkan kesana kemari.

Jumat 17 Oktober pagi, pas lagi siaran, PD (Program Director) tiba2 masuk ke studio dan bertanya apakah saya punya paspor. Ya punya, kata saya. Lalu dia bertanya apakah saya bersedia menggantikan seorang rekan reporter yang ditugaskan meliput Pilpres di AS namun visa jurnalisnya tidak keluar.

di McCain Center

@ McCain Center

Rupanya, PD saya mendapat telfon dari U.S. Embassy yang meminta pengganti lain yang akan dikirimkan. Dan, entah kenapa, staf U.S. Embassy itu menyebutkan nama saya yang pernah ia dengar di siaran berita sore radio kami, dan mengusulkan bagaimana kalau saya saja yang berangkat.

Saya ga tau apakah PD saat itu tahu atau tidak bahwa saya memang mengajukan diri untuk ikut program peliputan ini beberapa bulan lalu (dari gelagatnya sih ga tahu, tapi entahlah). Yang jelas, staf U.S. Embassy tadi sama sekali tidak tahu, karena mereka hanya menerima satu nama sebagai perwakilan dari radio kami. Jadi mungkin gambarannya begini, saya sepertinya gugur di kompetisi internal. Saya sebut “sepertinya”, karena sampai saat terakhir pun saya memang ga pernah dengar apa2 soal keputusan itu, mungkin terlalu kuper –hehe- atau mungkin keputusan itu memang tidak diumumkan terbuka.

@ John F. Kennedy Presidential Library and Museum

@ John F. Kennedy Presidential Library and Museum

Persiapan keberangkatan hanya dilakukan dalam 3 hari efektif kerja. Selasa siang 21 Oktober, saya sudah memegang paspor dengan visa jurnalis dan tiket PP, untuk keberangkatan malam itu juga, ke Amerika.

Sejak kuliah dulu, Amerika memang negeri impian pertama yang paling ingin saya kunjungi dari seluruh negara di dunia. Kenapa Amerika, karena bahasanya yang paling saya kenal sejak kecil, ibu saya adalah guru bahasa Inggris. Dan Amerika lah yang paling akrab juga, setelah semua infiltrasi ekonomi dan sosial budaya yang terjadi melalui siaran televisi kita.

(bersambung…)

1 Comment »

  1. melly says:

    anyway= jadi….???

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p