nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

2 is it too crazy to have dreams?

nat to jurnal — Tags: ,  

Ditilik dari pencapaian, masih banyak mimpi saya yang belum tercapai hingga saat ini. Salah satunya: keluar dari area tropis khatulistiwa, menikmati hidup di bagian lain dari bulatan bumi, meskipun hanya untuk sepenggal demi sepenggal episode kehidupan.

Merasakan pijakan di daratan yang belum pernah saya injak sebelumnya. Mencium bau coklat tanah yang berbeda warna dan tekstur dengan tanah khatulistiwa. Menghirup udara yang mungkin belum banyak terkontaminasi polusi kimia. Berenang menikmati air kolam dengan kandungan chlorin yang mungkin berbeda (siapa tahu?). Dan melakukan aktivitas-aktivitas yang belum pernah saya lakukan sejak saya dilahirkan ke dunia… seperti ice skating di hamparan hutan salju yang luas.

Kemarin saya membaca di milis, ada rekrutmen untuk program baby sitter yang dikirim ke Jerman. Saya sudah pernah dengar cerita tentang program baby sitting ini sebelumnya. Dari sepupu saya yang sempat dua tahun bekerja di Jerman, dan dari teman Norway yang menceritakan kisah seorang kenalannya di Muenchen (kalau tak salah ingat).

Program baby sitter ini terbuka untuk orang-orang Indonesia yang berminat merasakan pengalaman hidup dan bekerja di Jerman. Tugas mereka adalah menemani anak-anak di rumah keluarga Jerman. Setelah kontrak kerja selesai, mereka sangat dimungkinkan untuk mendapatkan sponsorship dari keluarga Jerman tempat mereka bekerja itu, yang dapat mereka pergunakan sebagai jaminan untuk melanjutkan sekolah atau bekerja di Jerman.

Secara umur saya sudah tidak memungkinkan lagi untuk ikut, maka saya tawarkan program ini ke adik bungsu saya yang tinggal di Medan. Jawabannya sebenarnya sudah cukup saya duga (considering what my sister is like), tapi cukup bikin saya mikir bahwa kami memang sangat berbeda seperti langit dan bumi jauhnya. Gak tahu apakah dia yang terlalu aneh kok bisa gak punya mimpi apa-apa, atau mungkin sebaliknya, apakah saya yang menurutnya terlalu aneh karena kebanyakan mimpi dan suka coba-coba banyak hal? :P

Saya: gak pengen coba ke luar negeri?

Adik: gak, sepi gak ada teman.

Saya: gak pengen sekolah di luar negeri?

Adik: gak, capek… males sekolah lagi.

Saya: ambil kursus deh, bahasa kek…

Adik: iya mau ngambil bahasa Inggris aja kali ya

Saya: bahasa lain juga boleh lah, Jerman kek, atau apa…

Adik: ngapain, bukannya mau pergi kemana2… (duh!)

Saya: jadi maunya kerja apa?

Adik: belum tahu, tapi mau sih kalau di Dinas Kesehatan

Saya: ooh… Departemen Kesehatan gitu maksudnya?

Adik: DepKes kan di Jakarta. Gak mau di Jakarta, di Dinas sini aja (gubrak!)

Saya: jadi PNS dong? kok mau?

Adik: kerjanya gak capek, pulangnya bisa cepat… (oh, Tuhan)

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Inilah kalau hidup hanya di Medan saja, pikirannya hanya di situ-situ saja.

Minggu lalu saya senang banget karena reality show kesukaan saya, First Class All The Way, kembali diputar di AXN setelah entah kenapa sebulan kemarin diliburkan. Tergetar lagi jantung saya melihat keindahan kota-kota dan perjalanan di Perancis yang ditampilkan di episode pertama.

Tanpa sanggup menahan hati yang bergolak, saya kirim sms kepada guru sekaligus atasan, sahabat dan teman jalan-jalan saya. Saya bilang saya lagi melihat Perancis di AXN. Balasan smsnya yang tidak akan saya hapus supaya terus mengingatkan saya pada impian saya: “Keep your dreams alive ya!”

Ini pertama kali saya menuliskan mimpi saya ingin ke luar negeri. Selama ini saya belum pernah menuliskannya. Entah malu, entah takut tak kesampaian, entahlah. Tapi belakangan, saya seperti merasakan emosi yang semakin besar tiap kali melihat atau mendengar atau menonton kota-kota dunia.

Mungkin itu sebabnya yang mendorong saya untuk menuliskannya, mengikuti nasehat para senior orang-orang sukses untuk menuangkan mimpi dalam bentuk tulisan atau gambar-gambar yang mendukungnya, untuk mengundang semua energi tercurah kepada mimpi itu.

Beberapa aplikasi short course, seminar, atau lamaran kerja ke radio atau lembaga pendidikan di luar negeri yang saya kirimkan, belum ada yang diterima. Tapi saya tahu sekarang, saya tidak boleh give up hope.

Masih ingat pertama kali kirim aplikasi ke VOA Washington, dan gagal total. Saya agak kecewa dan sempat agak emosional (sedih maksudnya), karena waktu itu saya pikir paling tidak saya pasti lulus tahap awal. Waktu itu, saya merasakan sesuatu yang belum pernah terbayangkan sebelumnya. “Oohh… begini ya rasanya kecewa kalau kenyataan tidak sesuai dengan harapan”. Kejadian itu sempat mengurangi semangat dan keyakinan saya untuk kirim-kirim aplikasi lagi.

Untunglah hari-hari suram dan mengkhawatirkan itu sudah lewat. Sekarang saya tidak takut kalaupun harus gagal berkali-kali lagi. Kirim lagi, gagal lagi, kirim lagi, gagal lagi, kirim lagi, kirim lagi, dan kirim lagi. Sampai kapan, sampai tercapai saja.

There is another amazing coincidence. Di tengah-tengah saya sedang menulis posting ini, acara Kick Andy muncul di Metro TV, dan saya menyambi nonton bersama adik laki-laki saya. Episode pembuatan film Laskar Pelangi. Sesaat sebelum break tadi, Giring Nidji menceritakan inspirasi yang ia dapatkan dari buku Laskar Pelangi. Saya belum baca bukunya. Tapi ini inspirasi yang ia sampaikan: “Mimpi adalah kunci kita untuk menaklukkan dunia”.

2 Comments »

  1. Saut says:

    ayo, terus bermimpi :D

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p