nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 inspirasi dari sketsa negeri

nat to kertas kerja — Tags:  

Tak seperti biasanya, siaran Senin sore saya kemarin, Sketsa Negeri, cukup memenuhi standar kepuasan saya. Kalau biasanya program itu hanya diisi dengan hujatan2 dan celaan2 terhadap kondisi negeri yang carut-marut ini namun nyaris tanpa ada solusi, manfaat, atau ilmu yang bisa diambil darinya, siaran kemarin itu cukup baik, dan memberikan beberapa inspirasi pada saya.

Kita mengangkat topik Budaya Konsumerisme. Bagaimana bangsa kita ini dan negara kita ini, selalu menjadi pasar yang “terlalu baik” untuk hampir segala macam produk. Jiwa konsumtif bangsa Indonesia, mulai dari tingkat paling rendah di masyarakat sampai tingkat tertinggi di pemerintahan, seakan tak bisa dikontrol.

Orang miskin berlagak kaya. Orang yang sedang2 saja berlagak konglomerat. Orang2 yang cukup kaya berlagak negara ini miliknya. Derajat dan harga diri seseorang dinilai dari kepemilikan properti, komoditi, dan penampilan. Yang terjadi adalah: lebih besar pasak daripada tiang.

Apa yang saya katakan berbeda pada siaran sore itu, adalah para pendengarnya. Bertubi-tubi penelfon masuk, dan kita udarakan, dan mereka punya pendapat yang berbeda2 (tidak seperti biasanya yang semua nyaris senada dan terpengaruh narsum utama budayawan kita: mencela dan menghujat).

Bpk Ari di Jakarta mengatakan budaya konsumerisme ada karena pengaruh TV. Bpk Santoso justru mengatakan, konsumerisme itu diperlukan. Bpk Eko di Bekasi bilang, budaya konsumerisme adalah gambaran masyarakat yang tidak berpendidikan. Ibu Lisa di Karawaci langsung membantah Bpk Eko, tidak ada hubungannya dengan pendidikan, tapi bergantung pada tuntutan dan kebutuhan.

Bpk Respem mengaitkan konsumerisme dengan teori ekonomi Robert T. Kiyosaki. Operational cost harus diatur sedemikian rupa supaya tidak melebihi capital. Selisih antara operational cost dengan capital ini yang harus ada, yang disebut sebagai profit. Bpk Dito di Tangerang bilang, sah2 saja budaya konsumerisme berkembang di masyarakat, asal masyarakat punya daya beli, dan bisa membedakan mana kebutuhan primer dan mana kebutuhan sekunder.

Voila! Saya senang pendengarnya pada mikir. Tidak latah dengan pendapat orang lain. Lebih berbobot dari sekadar membeo atau semata menyetujui “doktrin” narsum.

Sore itu kita juga mewawancarai Budi Rajab, sosiolog dari Univ Padjadjaran Bandung, melalui telfon. Berbeda dengan narsum budayawan yang menganggap budaya konsumerisme masyarakat Indonesia tidak bisa lagi dikontrol, Budi Rajab mengatakan sebaliknya, “harus bisa, dan memang bisa”.

Budi Rajab memberikan perbandingan, banyak negara maju di dunia yang jauh lebih kaya daripada Indonesia, tapi masyarakatnya tidak konsumtif. Di barat, mobil tidak selalu menjadi kebutuhan, padahal mereka jauh lebih kuat materinya dibanding orang kita. Orang2 barat itu tidak menganggap punya mobil sebagai sebuah cita-cita. Berbeda dengan orang Indonesia. Kalau ada 5 orang dalam 1 keluarga, kepengennya ada 5 mobil juga untuk mereka.

Saya jadi ingat Sex and the City. Kecuali limo saat pernikahan Carrie & Mr. Big, saya ga melihat ada mobil pribadi di sana, paling banter naik taksi.

Intinya adalah, siaran Senin sore itu cukup memberikan senyum inspirasi buat saya. Selama ini saya berpikir, mungkin sudah saatnya saya harus mulai mikir untuk nabung khusus beli mobil. Punya mobil jadi cita-cita. Merasa gengsi diri akan naik kalau sudah nyetir mobil sendiri. Padahal… emangnya kecantikan diri bakal luntur kalau kemana2 naik kendaraan umum? Malah bisa dipakai untuk baca buku, sesuatu yang tak mungkin bisa dilakukan sambil nyetir.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p