nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 zainal “bang jay” abidin

nat to epos — Tags: , ,  

Jarang-jarang ya orang Betawi sukses? Oops. Bukan bermaksud mengecilkan ras asli penduduk “pribumi” Jakarta yang cintai, tapi pendapat umum masyarakat sudah terbentuk demikian.

Masyarakat pula yang mencinptakan stereotipe. Orang Jawa dibilang paling banyak jadi (maaf) PRT. Orang Sunda katanya (maaf lagi) suka bersantai-santai alias malas kerja dan gak tahan diajak hidup susah. Orang Manado doyan pesta dan hura-hura. Orang Padang, pelit. Hmh.

Sebelum ada yang marah. Orang Batak (darah saya), dikenal sebagai rajanya copet. Mau lihat perilaku asli orang Batak? Pergilah ke terminal. Kalau dompet atau jam tangan kamu hilang, itu mungkin karena kamu baru saja ketemu orang Batak, kata mereka :P

Si Doel Kedua dari Betawi. Adalah sebutan lain untuk Bang Jay, yang bernama asli Zainal Abidin, di posting-posting terdahulu kerap saya sebut sebagai guru monyet. Si penulis buku “Monyet Aja Bisa Cari Duit”.

Gimana saya gak salut sama ini orang. Dia orang Betawi. Tapi berani jadi wirausaha, dan terbukti sekarang usahanya berkembang. Asli orang Jakarta, tapi kuliah di Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman di Purwokerto. Kelahiran 20 Oktober 1968, berarti sekarang jalan 40 tahun. Masih muda.

Selain berani (tepatnya: nekat), dia juga orang Betawi yang pintar (jarang-jarang gak? -kidding). Lulus kuliah di usia 23 tahun dengan predikat lulusan tercepat, termuda, IP tertinggi, dan terpopuler. Sebelum lulus, sempat menjadi Mahasiswa Teladan antar Perguruan Tinggi se-Indonesia. Catat, se-Indonesia.

Pernah ngerasain nyambi kerja jadi sopir truk pasir, dan pekerjaan pertamanya setelah lulus kuliah adalah juru sambung kabel telepon. Puncak karir di dunia kerja adalah menjadi Direktur Operasional di PT Sariyana Rizki Utama pada tahun 1997 (saat berusia 29 tahun), dan setelah itu ia memutuskan menjadi wirausaha.

Menginjak usia 34 tahun, tepatnya 2002, ia mendapat beasiswa belajar di Australia yang difasilitasi Indonesia Australia Specialised Training Project (IASTP) dan Departemen Perindustrian dan Perdagangan.

Ada cerita yang sangat menginspirasi saya tentang beasiswanya ini. Beliau sama sekali bukan orang yang jago Bahasa Inggris. Kayaknya sih, bahasa Inggris saya saat ini masih lebih jago daripada bahasa Inggris-nya waktu itu, tetapi “nasib” masih terbalik :D Itu karena Bang Jay gak pernah menjadikan apapun penghalang baginya untuk mencapai sukses, termasuk kemampuan bahasa Inggris, untuk mendapatkan beasiswa.

Apa yang dilakukannya adalah, dia nanyain teman-temannya pertanyaan-pertanyaan apa saja yang biasa ditanyakan saat wawancara beasiswa. Kemudian dua minggu penuh dia menghapalkan pertanyaan-pertanyaan itu, berikut jawaban yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sampai luar kepala. Alhasil, tahap wawancara pun lewat dengan bahasa Inggris yang terdengar cas-cis-cus. Gimana nggak, dua minggu ngehapalin script.

Sekarang, selain sibuk sebagai pengusaha, ia juga selalu berbagi dengan banyak orang. Dalam bentuk tulisan, seminar, training, ceramah di mesjid, juga menjadi narasumber di beberapa program radio, seperti di radio saya. Ia juga punya banyak saham di berbagai bidang usaha kecil dan menengah. Salah satunya, Bakmi Tebet di Mekkah.

Orangnya nekat, cenderung “gila” malah, tapi tampak luarnya sih pemalu… rupanya memang berani malu. Senang belajar dan berpikir, ini sepertinya yang bikin dia kreatif (banget). Ide-idenya itu ya ampun… saya sering malulah pokoknya kalau ngobrol sama dia, makanya saya lebih banyak diam dan dengerin aja, ketahuan banget begonya kalau bicara.

Eh tentang lebih banyak diam, sepertinya ini juga saya salah dan harus berubah. Dimana ya saya baca, katanya lebih baik banyak bertanya daripada diam saja. Kalau kamu kebanyakan bertanya, kamu akan terlihat bodoh selama 5 menit pertama. Tapi kalau kamu diam, kamu terlihat bodoh selamanya.

Ada lagi yang unik tentang Bang Jay. Kalau ada orang yang merasa terlambat memulai bisnis, dia akan bilang, “Lebih baik terlambat, daripada… tidak pernah ‘terlambat’…” Duh. Tepok jidat.

Terakhir yang saya suka dari dia adalah, dia relatively penganut monogami, dan sangat tidak menyarankan poligami. Itu pengamatan saya (sampai saat ini). Jadi Rini, jangan ragu lagi ;-)

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p