Mungkin karena sudah terbiasa dengan begitu banyak sms yang dikirimkan pendengar pada saat siaran, kadang saya jadi ga menyadari kalau pendengar memang kritis dan sangat memperhatikan detail.
Keseringan menerima sms pendengar mulai dari yang isinya pujian sampai hujatan, baik tentang topik siaran maupun tentang cara pembawaan siaran, membuat saya kadang jadi “kebal”, dan ga jarang berpikir kalau sms yang berisi kritikan sebenarnya tidak bermaksud apa2 selain mengeritik. Apapun topik yang dibicarakan, bagaimanapun cara penyiar membawakan, ada banyak di antara pendengar yang memang hanya mendengarkan acara semata2 untuk menemukan kesalahan lalu mengeritik via sms.
Sampai ketika siaran konsultasi marketing minggu lalu, saya baru sadar ternyata saya sudah melupakan sesuatu yang justru sangat penting. Suara pendengar.
Hari itu topik yang diangkat adalah kunci sukses bisnis 3-kir (zikir, pikir, kikir). Bung marketer biang penasaran menyampaikan satu contoh kasus yang cukup nyeleneh alias jorki. Beliau cerita tentang kondom.
Untuk pemasaran yang efektif, kondom tidak seharusnya diberi ukuran “small – medium – large”. Cara itu cenderung akan membatasi pasar, karena banyak orang yang akan merasa “segan” membeli kondom berukuran small. Cara yang baik adalah dengan mengubah ukuran kondom menjadi “jumbo – jumbo extra – super jumbo”.
Contoh itu lucu2an aja sebenarnya, dan saya pun meladeni candaan nakal itu. Bukan tanpa alasan sih sebenarnya. Saya pikir, target pendengar kami adalah orang dewasa usia 25 tahun ke atas dengan fokus utama 30-40 tahun. Jadi kalau ada anak di bawah umur yang mendengarkan, itu bukan salah kami.
Alasan kedua, sudah beberapa bulan terakhir radio kami secara terang2an memutar iklan suplemen penambah gairah khusus pria dewasa di prime time pagi dan sore. Sebelumnya setahu saya, kebijakan kami hanya mengijinkan iklan produk/acara yang berkaitan dengan rokok & seks diputar setelah pk 9 malam sampai 5 pagi. Jadi, karena sudah berubah, saya anggap ga masalah kalau kita bercanda sedikit “dewasa” di sore pk 5 itu.
Langsung beberapa sms protes masuk dari pendengar. Ada yang bilang, ga pantas candaan jorok tentang kondom di sore hari. Ada yang bingung ngejelasin ke anaknya yang kebetulan ikut dengerin di mobil. Ada yang marah besar karena radio kami dianggap sudah melanggar “norma”.
Saya sudah duga sejak pertama kali kata kondom keluar dari mulut bung marketer, pasti akan ada sms protes. Jadi ga kaget sih membaca sms2 kritikan itu, bahkan sempat menganggap angin lalu, seperti yang setiap hari selalu kami temui. Tapi, kok rasanya ada yang ga benar ya di sini…
Di situ baru saya sadar, pendengar saya memang kritis. Mereka menyimak setiap kata dan kalimat, mendengarkan saya dan narsum berbicara. Dan lebih dari sekadar mendengarkan, mereka memahami apa yang dibicarakan. Atau bahkan lebih dari itu, mereka menanti2 apa lagi yang akan dibicarakan. Kalau ada yang ga sesuai dengan yang diharapkan, pendengar bereaksi dengan spontan. Dan itulah suara mereka. Suara yang harus didengar.
Menurut survey dan pengamatan atas kebiasaan pasar, target pendengar radio kami tergolong pendengar pasif. Bukan target pendengar yang terbiasa berinteraksi lewat sms apalagi telfon. Sebagian besar hanya mendengarkan (acara) radio dari satu arah.
Tapi yang sepertinya saya lupa, pendengar pasif bukan berarti tidak punya suara. Bukan berarti mereka tidak akan bereaksi bila kenyamanannya mendengarkan radio “terganggu” oleh sesuatu yang tidak seharusnya.
-peanut-


seru juga ya jadi penyiar…banyak masukan dari pendengar, berarti banyak penggemar dongs
SP said,
banyak juga yg jualan, Ut. kemaren pas siaran, ada pendengar yg nelfon, nitip pesan spy ditelfon balik kalo udah kelar siaran. pas ditelfon, ternyata… mo jualan produknya… hehehe
[Reply]