nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

1 sex and the city

Begitu ngecek Sex and the City sudah out of 21 Cineplex, saya memutuskan Jumat sore kemarin mau tak mau harus nonton Carrie Bradshaw dkk di Blitz Megaplex. Pembatalan nobar oleh teman Depkominfo berhubung katanya harus meeting mendadak di Puncak dengan para bosnya, tidak menjadi halangan untuk pergi nonton sendiri sebenarnya.

But hey, it’s Sex and the City jo. Wouldn’t it be like a geek if I went there all alone? So I called one of my movie-buddy (istilah saya untuk teman yang sama-sama sering ikut press movie preview), and there we were.

Dua cute chicks ;-) yang kayanya paling heboh sendiri di bioskop, ngakak-ngakak mengomentari adegan-adegan lucu di layar, sambil sibuk makan pop corn masing-masing (regular size tapi kok perasaan gak habis-habis? –dan memang gak habis sampai filmnya habis).

Segar. Brilliant funny conversations. Dan seperti yang diberitakan semua resensi dan sinopsis, penuh dengan “iklan” high branded fashion.

But above of all, SatC is simply about a realistic friendship and love life. Gambaran kehidupan yang selalu ada di setiap sudut dunia, dengan ups and downs yang membuat siapapun berpikir “it could’ve just happened to me”atauuu malah… bikin ngerasa “gue banget”. Looks like untouchable on one side, but down to earth on the other side.

Sekian lama, kata ‘pernikahan’ menjadi sesuatu yang menakutkan bagi saya. Bukan hanya kalau dikaitkan dengan “kapan” (ouch!), tapi lebih jauh dari itu: “mengapa”, “bagaimana sesudahnya”, dan “sampai berapa lama”. Tiga pertanyaan terakhir nyatanya lebih dalam hilir mudik di kepala daripada faktor “dengan siapa” (aagh!)

Bertemu teman-teman yang sudah berpasangan cukup lama, biasanya saya bertanya “kapan, apa lagi yang ditunggu?” Pertanyaan klise yang justru seringkali menjebak saya sendiri, karena sesungguhnya yang saya cari adalah jawaban atas pertanyaan-tak-terungkapkan saya “kenapa menikah?”

So, what the most important to me is actually… not the marriage, but the relationship.

Beberapa jawaban yang saya temukan, tidak memuaskan.

Dulu saya pernah bertanya kepada seseorang bagaimana seandainya saya ke luar negeri, was that ok with him or not. Jawabannya, tidak. Alasannya, “Aku gak mau kehilangan kamu. Titik.” Kinda flattered, but… not the answer that I was looking for.

Saya bertanya lagi kepada seseorang lain apa yang membuatnya memutuskan menikah. Jawabnya, “Aku merasa sudah waktunya aja menikah. Umurku sudah cukup untuk sampai di fase kehidupan menikah. Setelah itu masuk ke fase hidup berikutnya.” Juga bukan jawaban yang klik dengan saya.

Lain waktu saya ngobrol dengan seorang teman jauh dari Inggris menjelang rencana pernikahannya (sekarang sudah menikah). Dia menyebut satu kata penting dalam relationship dan pernikahan: komitmen. Holly molly… kedengaran lebih menyeramkan lagi buat saya.

Seorang sahabat lain ada yang ngebet banget pengen segera menikah, berulang kali mencanangkan target bulan dan tahun, dan berulang kali pula harus menghadapi kenyataan targetnya dimundurkan, ditunda, sampai dibatalkan. Alasannya untuk segera menikah, “pengen nyenengin orang tua, gak mau jadi beban pikiran mereka”.

Takut kehilangan. Sudah cukup umur. Fase hidup. Komitmen. Tidak menjadi beban orang tua.

Bagi saya, semua itu bukan alasan yang cukup untuk menikah. Karena dengan begitu, saya melihat pernikahan hanya dijadikan alat untuk memenjarakan kebebasan, alat untuk mengikat seseorang, alat untuk membuat kita tidak ditinggalkan, alat supaya kita tidak kehilangan, dan alat untuk memperoleh status sosial.

Sejak kapan pernikahan jadi lebih penting daripada the man behind the relationship?

Kisah cinta CB dengan Mr. Big di SatC, baru saya rasakan klik dengan aliran “kepercayaan” saya tentang cinta. Sepuluh tahun menjalin hubungan, putus sambung berkali-kali, bertemu dengan orang yang berbeda-beda namun kembali lagi dan kembali lagi.

Pasti ada sesuatu kenapa Mr. Big memilih kembali dan kembali lagi ke CB tetapi tidak kepada mantan-mantan istrinya yang lain. Pasti ada sesuatu kenapa CB kembali dan kembali lagi ke Mr. Big meski sudah disakiti berkali-kali.

Teman jauh dari Inggris bertanya apa definisi saya tentang cinta. Someone whom I feel comfortable to spend the whole time with. Someone whom I want to spend the rest of my life with.

Seseorang yang, dengan atau tanpa pernikahan, tidak mengubah perasaan saya terhadapnya. Tetap merasa aman dan nyaman melewatkan waktu bersama. Seseorang yang tidak membuat saya khawatir “hubungan kita mau kemana” atau “kapan kita melangkah”.

Seseorang yang tidak takut kehilangan saya, dan tidak membuat saya takut kehilangan dirinya. Seseorang yang membuat saya bisa tetap berdiri bebas di mana saja, namun tahu bahwa meskipun jauh, hati kita tetap dekat. Dan ketika pergi jauh, tahu bahwa kalau kita menoleh ke belakang, dia ada di sana.

And so marriage? It’s not something that we need to do, it comes. Just in time…

1 Comment »

  1. Yes, not just about with whom you… and when you…?
    It’s about why you…
    N about “feel in comfort”…
    Ga usah panas kuping, kalau ditanya kapan….
    Ga usah panas hati, kalau disinggung umur…
    Toh, bukan mereka yang akan menjalani…
    Toh. bukan mereka yang menanggungnya jika something happen (on the way to heaven :D )
    It’s your life… your heart… n your turn then…
    (Gw ga perlu ngasih testimoni kan?????)
    btw, siapakah “dia” yang lu maksud, li?
    O..oo.. siapa dia…
    nanananana..nananananananana… o..oo.. siapa dia… :-D

    SP said,

    Gw ga perlu ngasih testimoni kan?????

    iya ga perlu… hehehe… ;)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p