nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 wanted

Di antara sekian milyar penduduk dunia ini, rasanya tak banyak orang yang ingin menjadi orang rata-rata, average people, meski sebagian besar pastilah hanya mampu menjadi yang rata-rata itu.

Itu pula yang dirasakan Wesley Gibson, pemuda 25 tahun, yang merasa hidupnya sangat apathetic dan membosankan. Tinggal di apartemen kumuh dekat rel kereta api dengan kebisingan maksimal yang selalu mengganggu tidurnya (oops, sounds real to me! -haha-), bersama kekasih yang ga cantik tapi ga henti2 pula mengeluh mengeluh dan mengeluhkan hidup mereka. Di tempat kerjanya sebagai akuntan, Wes masih harus berhadapan dengan bos cewek gendut yang kecerewetannya hanya bisa dihentikan kalau mulutnya disumpal dengan bantal ;)

Suatu hari, saat sedang belanja seperti biasa di supermarket, Wes bertemu dengan seorang perempuan tangguh (lebih tangguh daripada Wes tentunya). Perempuan itu bernama Vox, mengaku kenal almarhum ayah Wes. Vox adalah anggota suatu kelompok rahasia yang menamakan diri Fraternity. Vox kemudian membawa Wes menghadap pemimpinnya, Sloan.

Dari merekalah Wes mendapat cerita bahwa ayahnya, yang tak pernah ia kenal sepanjang hidupnya, adalah juga anggota Fraternity, namun dibunuh oleh seorang pengkhianat yang berambisi membunuhi semua anggota Fraternity. Nah, tugas Wes adalah membunuh sang pengkhianat.

Untuk itu, ia harus dilatih terlebih dahulu, menjadi seorang pembunuh handal. Wes baru bisa lulus jadi pembunuh yang siap diterjunkan ke lapangan, kalau sudah bisa melakukan satu keahlian: membelokkan peluru. Saya tak tahu persis bahasa Indonesia yang tepat, tapi istilahnya adalah: curving the bullet. Maksudnya, mampu menembak sasaran tanpa mengenai apapun yang ada di antara sasaran dengan si penembak. Honestly, saya ga tahu apa betul ada seperti itu di dunia nyata, tapi di film sih keliatannya keren banget :)

Wes yang selama hidupnya merasa tidak kenal siapa dirinya sendiri dan tak pernah merasakan menjadi orang yang berarti, sangat menikmati kekuatan alami dirinya yang terus diasah hingga membuatnya mampu melakukan banyak hal. Namun seiring dengan waktu, ia menyadari pekerjaannya sangat berbahaya.

Lebih dari itu, Wes juga menyadari bahwa ternyata keadaan tidak sesimpel serperti yang diceritakan kepadanya. Rahasia apakah yang disimpan oleh kelompok Fraternity dan mengapa Wes tidak diberitahu sebelumnya? Dapatkah ia mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya?

Produksi Universal Pictures ini diperankan James McAvoy, Angelina Jolie, dan Morgan Freeman.

Tak bisa dipungkiri, sosok Angelina Jolie lah yang paling menarik perhatian dari film ini. Meskipun ia sudah sangat “irit” ngomong, tapi rasanya tak bisa tidak, selalu pengen melihat aksinya menembaklah, adu jotoslah, so cool… meski tak jauh2 juga sih dari peran2 Jolie selama ini di film2 lain. Morgan Freeman, yah seperti biasa… kayanya makin betah aja dikasih peran “orang baik2 yang ternyata jahat”. James McAvoy… yah… so so lah… ga terlalu macho sebagai pembunuh sekaligus penembak jitu, tapi mungkin juga memang perannya menuntut demikian.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p