nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 the da vinci code: who is God and who is the man?

Baru tadi malam saya nonton film kontroversial The Da Vinci Code di HBO. Dan pertanyaan “Who is God and who is the Man?” itu dilontarkan oleh Sophie, seorang polwan Perancis yang tidak percaya Tuhan, kepada Robert Langdon (seorang ahli cryptex -kode2 rahasia & bahasa sandi) dan Leigh (ahli sejarah yang dipercaya Robert), pada saat Robert dan Leigh berdebat tentang petunjuk dan bukti sejarah yang meragukan ketuhanan Yesus.

Dulu sekali, saat heboh film The Da Vinci Code baru keluar, seorang teman di RCTI yang sudah menontonnya (bekas rekan kerja di kantor saya yang pertama di Bandung dulu), berkomentar pada saya, film itu memang “menggoyahkan iman”.

Meskipun dipenuhi dengan berbagai pengungkapan bahwa Yesus adalah manusia biasa yang luar biasa (an extraordinary ordinary-human), dan bahwa Yesus jatuh cinta, menikah dengan Maria Magdalena dan mereka memiliki keturunan, di akhir cerita toh film ini menyisipkan pesan bahwa it’s all the matter of belief.

Robert yang dalam penyelidikannya semakin dekat pada fakta bahwa Yesus itu manusia, justru tak bisa melupakan peristiwa traumatis sewaktu kecil, dimana ia jatuh ke dalam sumur dan semalaman berjuang untuk tetap hidup. Ia memanggil nama Yesus untuk minta tolong.

Pendapat Robert, ok Jesus is only an extraordinary human, that’s it, memang hanya itu yang bisa dibuktikan, tetapi mengapa Yesus sebagai manusia bisa melakukan berbagai mukjizat? Kenapa dirinya selamat dari kematian di lubang sumur ketika berdoa dan minta tolong kepada Yesus? Lalu untuk apa pula Yesus ada di tengah2 manusia? ”Maybe because God is divine”. Mungkin karena memang Tuhan adalah manusia, Robert menjawab pertanyaannya sendiri.

Pada kenyataannya, di film itu, keturunan Yesus sangat dilindungi dan dijaga oleh orang2 yang setia pada Yesus dan Maria Magdalena, istrinya, orang yang paling ia cintai.

Para pengikut setia ini menjaga dan melindungi keturunan Yesus di muka bumi agar keberadaan mereka tidak tercium oleh kelompok elite dari Vatican, yang justru karena kesetiaan mereka kepada Yesus pula, terus memburu keturunan asli Yesus untuk menghilangkan bukti bahwa Yesus punya keturunan. Tujuan kelompok elite ini adalah, menyelamatkan dan menjaga prinsip iman Kristen yang sudah dipercaya dunia berabad2 lamanya.

Mungkin misteri itu memang tidak akan pernah diungkapkan ke dunia sampai kapanpun, namun sebagian kecil orang toh mengetahui kebenarannya.

Yang menjadi perhatian saya adalah, setiap orang yang percaya pada Yesus, meskipun mungkin sudah tahu fakta/kebenaran (bahwa Yesus sebetulnya adalah manusia), akan tetap memuliakan Yesus… baik sebagai Tuhan ataupun “manusia yang sangat suci” atau sejenisnya. Mereka akan tetap berdoa pada-Nya, memanggil namanya, meminta pertolongan padanya. Kepercayaan itu akan semakin kuat, karena mereka merasakan “pengalaman” atau “jawaban” seperti yang mereka doakan… kepada-Nya. Persis seperti pengalaman Robert ketika “bersama Yesus” di lubang sumur, dan pengalaman2 para pengikut setia Yesus lainnya.

Pertanyaan2 yang muncul berikutnya hanyalah pertanyaan2 normal atas fenomena yang terjadi di seluruh dunia.

Apakah orang Budha tidak merasakan “pengalaman” dan “jawaban” atas doa-penuh-keyakinan mereka kepada Sang Budha? Apakah orang Hindu tidak merasakan “pengalaman” dan “jawaban” atas doa-penuh-keyakinan mereka kepada Dewa Brahman? Apakah orang Kristen kharismatik tidak merasakan “pengalaman” dan “jawaban” atas doa-penuh-keyakinan mereka kepada Allah Roh Kudus? Apakah orang Scientology tidak merasakan “pengalaman” dan “jawaban” atas doa-penuh-keyakinan mereka kepada Tuhannya? Apakah orang Islam tidak merasakan “pengalaman” dan “jawaban” atas doa-penuh-keyakinan mereka kepada Allah Swt?

Pasti merasakan. Karena kalau bicara tentang pengalaman spiritual, berarti bicara tentang perasaan, which is sangat personal, namun juga sangat nyata. Pertanyaan terakhir saya adalah: jadi kalau begitu, apakah Tuhan memanifestasikan diri dalam semua “pengalaman” setiap manusia itu, ataukah “pengalaman” saja tidak cukup dijadikan ukuran untuk mengatakan bahwa “itu”… Tuhan?

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p