nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 slow food movement

nat to kertas kerja — Tags: ,  

“Kenapa kalau bayar sayur lodeh 30ribu di restoran, orang ngomel2, tapi kalau bayar sushi yang 125ribu, orang rela merogoh kocek?”. Pertanyaan lucu dan cerdas ini datang dari seorang pengusaha restoran, tepatnya pemilik resto “Warung Daun”, yang petang tadi join dalam siaran Rabu sore saya bersama marketer biang penasaran.

Bukan bung marketer biang penasaran namanya, kalau tidak punya jawaban yang lebih lucu dan cerdas. “Harganya tanggung. Jangan 30ribu, tapi sekalian 300ribu.”

Woow… what a brilliant answer.

Kalau ingin menjual keunikan dan keunggulan produk kuliner tradisional, jangan terkecoh dengan harus menjual murah. Justru karena kita tahu bahwa produk kuliner tradisional itu bercita rasa tinggi, sangat otentik, dan sangat eksotik, dan tidak akan diperoleh dari produk kuliner lain, maka harus dijual dengan harga tinggi.

Yang dijual adalah experience. Pengalaman apa yang akan dirasakan pelanggan kita, jika ia membayar seharga yang tinggi itu demi “hanya” sayur lodeh, atau sambal balacan, atau nasi ulam, atau kerak telor. Pasti, lebih dari “sekadar” sayur lodeh, lebih dari “sekadar” sambal balacan, lebih dari “sekadar” nasi ulam, dan lebih dari “sekadar” kerak telor.

………

Menggalakkan kembali makanan2 tradisional sebagai antiklimaks atas fenomena fast food di seluruh jagad raya, dikenal dengan sebutan slow food movement [bisa dicek di www.slowfood.com]. Pertama kali dicetuskan oleh Carlo Petrini di Italia pada 1989. Petrini memprakarsai kampanye besar2an untuk mempromosikan kembali makanan2 lokal, terutama pelestarian bahan bakunya, tradisinya, hingga tata cara makannya. Karena gagasan dan tindakannya yang menginpirasi itu, Petrini bahkan pernah terpilih sebagai satu dari 29 “European Heroes” oleh Majalah Time (edisi Eropa) pada tahun 2004. Dan di awal 2008 ini, oleh koran Inggris, The Guardian, ia dinobatkan sebagai salah satu dari “50 people who could save the planet”.

Sampai saat ini, slow food movement sudah beranggotakan lebih dari 80ribu orang di seluruh dunia, terdiri tidak hanya dari kalangan pengusaha kuliner atau korporat, tapi juga individu2 yang peduli dengan cita rasa makanan. Mereka melakukan banyak edukasi dengan maksud untuk menyelamatkan cita rasa, dengan cara taste campaign.

Gerakan ini dimulai dari kesadaran akan problematik yang dihasilkan fast food modern. Fast food telah menghilangkan sejumlah makanan tradisional, menghilangkan bahan baku tradisional, menghilangkan tradisi menikmati makanan, dan menghilangkan cita rasa makanan yang sesungguhnya.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p