nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

1 those best times i have

nat to jurnal — Tags:  

Ada sesuatu yang terjadi antara saya dengan keluarga yang membuat kondisi sekarang tidak lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Sesuatu yang sangat mungkin dikatakan merenggangkan hubungan saya dengan mereka, orang-orang yang justru paling saya cintai dan paling mencintai saya di dunia. Sesuatu yang membuat saya agak menahan diri untuk cuti mudik ke kampung halaman, misalnya, karena tidak siap dengan rangkaian pertanyaan yang saya tahu akan “menyerang” saya di sana.

So, saya sangat bersyukur ketika kemudian mengingat Tuhan masih memberikan kesempatan untuk saya bertemu dengan mereka. Itu yang membuat saya sekarang sudah lebih sering mengunjungi keluarga adik saya, atau menemani adik saat suaminya pergi ke luar kota, atau hanya sekadar menemani ponakan saya di rumah. Apalagi jika kebetulan Ayah atau Ibu datang berkunjung ke Jakarta.

Dengan “cara saya” (baca: segala keterbatasan saya), selalu ada keinginan yang sangat besar untuk hadir bersama mereka. Maka saya masih berusaha untuk datang memenuhi undangan. Apakah itu undangan untuk sekadar makan-makan di rumah, berakhir pekan ke Ancol, jalan-jalan, atau acara pernikahan kerabat.

Saya tahu saya mungkin masih terlihat tidak serius untuk datang. Saya tahu mereka mungkin masih berpikir saya seperti ogah-ogahan untuk datang. Seperti masih mementingkan pekerjaan dan aktivitas lain, yang terlihat dari saya datang terlambat atau tidak mengikuti penuh acara dari awal, dll. Tetapi yang sesungguhnya saya rasakan dan yang tidak pernah bisa saya sampaikan kepada mereka adalah, saya ingin sekali bisa hadir di setiap acara.

God is good masih memberikan satu kesempatan. Itu yang membuat saya sangat bersyukur ketika Sabtu malam kemarin adik bungsu saya, yang masih tinggal bersama orang tua kami di Medan, kirim sms dan minta dititipkan parfum untuk dibawa Ayah yang akan pulang dari Jakarta Minggu pagi besoknya. Saya jadi merasa punya alasan untuk bangun pagi dan menyempatkan diri mampir ke rumah adik saya pagi-pagi sebelum siaran. Saya masih ingin ketemu Ayah, dan mengutuk kejadian Sabtu kemarinnya yang sempat tidak enak bahkan tegang akibat pertengkaran gak penting antara saya dengan adik saya, yang kemudian membuat si adik membatalkan rencana belanja bersama saya untuk beli kain batik kado ulang tahun Ibu kami (those kinda small stuff kadang masih membuat saya “menggugat” Tuhan karena memiliki adik yang secara duniawi begitu sempurna, hingga tak punya rasa respek pada saya yang mungkin dianggap kebalikannya–hehe).

God is good masih memberikan satu kesempatan. Itu yang akhirnya kemudian membuat saya Minggu sore kemarin masih bisa pergi menyusul naik Damri dan ikut mengantarkan Ayah ke bandara, karena ternyata penerbangan beliau dialihkan dari jadwal pagi ke sore hari.

Mungkin saya memang tidak bisa–atau belum bisa–bicara banyak hal, sharing banyak hal, seperti yang saya harapkan dan diharapkan keluarga terutama Ayah dan Ibu. Mungkin semua keterbatasan saya masih akan membuat kekakuan demi kekakuan belum akan hilang dalam waktu yang lama. Mungkin saya juga masih akan bergumul dengan ketakutan saya, keraguan saya, kecemasan saya, untuk menghadapi mereka. Tetapi mudah-mudahan setiap kesempatan kecil yang ada bisa saya pergunakan untuk perlahan-lahan, sedikit demi sedikit, menunjukkan bahwa saya sayang pada mereka. Hanya mereka. Bagaimanapun keadaan saya, dan kehidupan yang saya pilih untuk saya jalani ke depan.

1 Comment »

  1. ganda ilmana says:

    salam kenal.
    saya menemukan artikel ini by accident.
    sedikit mirip dengan artikel di blog saya ttg saya dan ke-tidak bisa dekat-an dengan keluarga dari ayah saya… hehe

    salam kenal yaa.. :)
    ~Nat:
    salam kenal juga Ganda
    :)

    [Reply]

RSS feed for comments on this post. TrackBack URL

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p