Ada sesuatu yang terjadi antara saya dengan keluarga yang membuat kondisi sekarang tidak lagi sama seperti tahun2 sebelumnya. Sesuatu yang sangat mungkin dikatakan merenggangkan hubungan saya dengan mereka, orang2 yang justru paling saya cintai dan paling mencintai saya di dunia. Sesuatu yang membuat saya agak menahan diri untuk cuti mudik ke kampung halaman misalnya, karena tidak siap dengan rangkaian pertanyaan yang saya tahu akan “menyerang” saya di sana.
So, saya sangat bersyukur ketika kemudian mengingat Tuhan masih memberikan kesempatan untuk saya bertemu dengan mereka. Itu yang membuat saya sekarang sudah lebih sering mengunjungi keluarga adik saya, atau menemani adik saat suaminya pergi ke luar kota, atau hanya sekadar menemani ponakan saya di rumah. Apalagi jika ayah atau ibu datang ke Jakarta.
Dengan “cara saya” (baca: segala keterbatasan saya), selalu ada keinginan yang sangat besar untuk hadir bersama mereka. Maka saya masih berusaha untuk datang memenuhi undangan, apakah itu undangan untuk sekadar makan2 di rumah, berakhir pekan ke Ancol, jalan2, atau acara pernikahan kerabat keluarga.
Saya tahu saya mungkin masih terlihat tidak serius untuk datang, saya tahu mereka mungkin masih berpikir saya seperti ogah2an untuk datang, seperti masih mementingkan pekerjaan dan aktivitas lain, yang terlihat dari saya datang terlambat atau tidak mengikuti penuh acara dari awal dll. Tapi yang sesungguhnya saya rasakan dan yang tidak pernah saya sampaikan kepada mereka adalah, saya ingin sekali bisa hadir di setiap acara.
God is good masih memberikan satu kesempatan. Itu yang membuat saya sangat bersyukur ketika Sabtu malam kemarin adik bungsu saya, yang masih tinggal bersama orang tua kami, kirim sms dan minta dititipkan parfum untuk dibawa ayah yang akan pulang Minggu pagi besoknya. Saya jadi merasa punya alasan untuk bangun pagi dan menyempatkan diri mampir ke rumah adik saya pagi2 sebelum siaran. Saya masih ingin ketemu ayah, dan mengutuk kejadian Sabtu kemarinnya yang sempat tidak enak bahkan tegang akibat pertengkaran ga penting antara saya dengan adik saya, yang kemudian membuat adik saya itu membatalkan rencana belanja bersama saya untuk beli kain batik kado ulang tahun ibu kami (kinda small stuff yang kadang masih membuat saya “menggugat” Tuhan karena memiliki adik yang begitu sempurna hingga tak punya rasa respek pada saya yang mungkin dianggap kebalikannya -hehe-).
God is good masih memberikan satu kesempatan. Itu yang akhirnya kemudian membuat saya Minggu sore kemarin masih bisa pergi naik Damri dan ikut mengantarkan ayah ke airport, karena ternyata penerbangan beliau dialihkan dari jadwal pagi ke sore hari.
Mungkin saya memang tidak bisa… atau belum bisa… bicara banyak hal, sharing banyak hal, seperti yang saya harapkan dan diharapkan keluarga saya, terutama ayah dan ibu. Mungkin semua keterbatasan saya masih akan membuat kekakuan demi kekakuan belum akan hilang dalam waktu yang lama. Mungkin saya juga masih akan bergumul dengan ketakutan saya, keraguan saya, kecemasan saya, untuk menghadapi mereka. Tapi mudah2an setiap kesempatan yang kecil bisa saya pergunakan untuk perlahan-lahan… sedikit demi sedikit… menunjukkan bahwa saya sayang pada mereka… hanya mereka… bagaimanapun keadaan saya…


salam kenal.
saya menemukan artikel ini by accident.
sedikit mirip dengan artikel di blog saya ttg saya dan ke-tidak bisa dekat-an dengan keluarga dari ayah saya… hehe
salam kenal yaa..
~Nat:
salam kenal juga Ganda
[Reply]