nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 the pursuit of happyness

Pertama kali nonton The Pursuit of Happyness tahun lalu, waktu itu teman Norway meminjamkan DVD-nya (atau VCD ya… lupa) yang kita beli di Mal Ambassador. Dan sepanjang April ini, HBO memutar film Will Smith yang terkenal itu. Saya sengaja menonton lagi, untuk mencari ‘maksud’ film ini kepada saya.

Biasanya, kalau nonton film bagus, saya akan langsung bilang bagus dengan antusias. But there was something different with this movie. I didn’t know what it was, but that ‘something’ has kept me silent and couldn’t give any comment except just “good” with no expression. I agreed that the movie was ok, but hardly found something positive from it to be taken personally into my own life. It felt like… away too far for me. Unreachable. Almost impossible.

Until today… when I had a little chit chat with my another former SM. Ini kutipan chit chat-nya, dengan beberapa tambahan keterangan dari saya.

16:15:16 another former SM says: sdh nonton pursuit of happiness di hbo?

16:15:36 I say: udah.. dulu udh pernah nonton dvd nya, di hbo nonton lagi (sedikit ogah2an untuk membahas film ini karena saya masih merasa belum mendapatkan “sesuatu” dari film ini untuk kehidupan saya pribadi)

16:16:06 another former SM says: bagus kan

16:16:22 another former SM says: seorang ayah dgn keyakinannya, bisa sukses

16:16:28 I say: iya (tanpa antusias, ga tau mau komentar apa)

16:16:45 another former SM says: kisah nyata

16:16:48 I say: iya (masih tanpa antusias, dan makin bingung mau komentar apa)

16:17:04 I say: edan itu mah kerja kerasnya (komentar yang agak dipaksakan sebetulnya, tapi sambil berusaha memikirkan kata2 yang tepat utk menggambarkan pandangan jujur saya tentang film itu)

16:17:08 I say: tapi…

16:17:46 I say: “terlihat”nya aja kali ya edan. sbnrnya buat dia ga edan mgkin, krn dia udh ngejalanin smua yg pahit2 ya

16:18:16 I say: jadi kalo dia kerja keras, buat dia okelah apapun jadi dilakukan

16:19:01 I say: kalo org yg msh ngerasain serba nyaman, or at least msh ada kenyamanan, pasti sulit kerja spt dia kan

16:19:12 I say: krn ga termotivasi

16:19:49 another former SM says: hmm…you asked then you answer it by yourself

16:20:09 another former SM says: :)

Exactly. Tidak ada pilihan lain bagi Chris Gardner, tokoh yang diperankan Will Smith, selain menerima pekerjaan di perusahaan broker terkenal tanpa gaji selama 6 bulan masa percobaan. Dia ada dalam situasi penuh keterpaksaan, itu yang memampukannya menerima dan menjalani apapun yang harus ia lakukan. Dia sudah melewati semua kejadian pahit dalam hidupnya, udah ngalamin keterpurukan yang sangat dalam. Sudahlah menjadi salesman alat kedokteran dengan gaji ga jelas, ditinggal pergi istri yang ga puas dengan kehidupan pas-pasan, diusir induk semang karena tak mampu membayar sewa rumah, membawa anaknya menginap di toilet umum, dan antre bersama puluhan tuna wisma lain untuk bisa menginap tidur di tempat penampungan orang miskin. Kehidupan yang adil lah yang lalu membayar keringat dan air mata itu pada akhirnya.

Pada saat berkomunikasi dengan diri sendiri itulah, saya merasa sesuatu berbicara kepada saya. Baru semalam saya mengalami lagi kejadian pahit dalam kehidupan cinta, membuat saya gamang atas beberapa keputusan saya dalam menjalani kehidupan. Seharian ini kepala saya diserang dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba hindari karena tidak yakin untuk menjawab apa.

Apakah saya masih percaya dengan cinta yang indah seperti yang selama ini saya harapkan? Apakah saya telah salah ketika dulu menerima dia? Apakah saya kurang berhati-hati saat menerima ajakannya? Tapi kan saya tidak pernah memintanya? Saya bahkan sempat lama selalu menghindar darinya sebelum kemudian memutuskan untuk memberi dia dan diri saya sendiri satu kesempatan? Sekarang apa yang akan terjadi selanjutnya, apa saya akan memperpanjang daftar laki-laki yang pernah lewat dalam hidup saya? Apakah saya akan trauma dan apakah sekarang saya harus takut berkencan dengan orang-orang asing seperti dia? Apakah ini artinya keputusan saya dulu salah untuk menjalani cara hidup yang berbeda dari sebagian orang lain seperti saudara-saudara saya? Apakah memang akan lebih baik kalau saya menjalani hidup yang “normal-normal” saja seperti mereka, dan hidup saya tidak akan sebergejolak seperti sekarang? Apakah saya harus menyesal? Bagaimana seharusnya saya menjalani hidup saya?

Pertanyaan-pertanyaan itu tak mampu saya jawab seharian ini, saya bahkan mimpi buruk tadi malam, dan berusaha buang jauh-jauh semua pikiran itu dengan menelepon beberapa teman di sana-sini untuk ngobrolin hal-hal lain yang bisa menyita perhatian saya. It worked thou.

Tapi yang membuat saya bisa tersenyum lepas bahkan jadi senang banget sore ini adalah justru rangkaian kisah buruk kehidupan Chris Gardner itu. Kepahitan-kepahitan hidupnya, keterpaksaan yang berubah menjadi kerelaan untuk menjalani itu semua, memampukannya untuk bekerja keras dan menjawab tantangan yang gak semua orang bisa. Dan itu mengubah hidupnya, mengantarkannya menggapai impian dan menjadi orang sukses seperti harapannya.

Saya tidak keberatan dengan kejadian pahit apapun dalam hidup saya. Saya juga tidak takut bila masih akan menghadapi kejadian pahit lagi di masa datang. Dan saya tidak sedikitpun menyesali jalan hidup dan keputusan yang sudah saya ambil karena semuanya sudah dipertimbangkan dengan matang. Saya juga tidak akan trauma kalau suatu saat nanti ada orang asing lagi mengajak berkenalan atau berkencan dengan saya… pun tidak takut berkenalan dan memulai hubungan baru lagi dengan orang-orang yang belum saya kenal.

Yes I will give it a shot… karena saya tahu sekarang, setiap kesulitan yang saya alami justru akan memampukan saya melewati tantangan lain yang ada di depan.

Sepahit apapun sesuatu yang bisa menimpa kita, selalu ada bagian untuk mendapatkan apa yang layak kita dapatkan. Sepahit apapun cobaan hidup menerpa, keyakinan kita lah satu-satunya yang jangan sampai kita musnahkan. Karena kita tahu, in the end kita akan tertawa bahagia. Seperti kata Chris, “In my life, this stage is called… Happiness.”

C’est la Vie. Itulah kehidupan, kata ungkapan. Tapi saya ga begitu suka dengan ungkapan itu, sarat dengan kesan bahwa hidup di dunia penuh beban dan berat. Saya lebih suka mengatakan la Vita ẽ Bella, bahwa hidup itu indah, kesulitan bahkan menambahkan keindahan itu padanya.

Memikirkan itu saja, sudah membuat saya bahagia dan semakin mencintai kehidupan. Semoga saja Dia yang Di Atas memaafkan saya, karena katanya kan manusia tidak boleh mencintai dunia…;)

16:24:18 I say: btw

16:24:32 I say: thanks for reminding me the Pursuit of Happyness ya

16:24:47 I say: aku jadi tau mau nulis apa ttg semalam

16:24:50 I say: hehehee

16:25:02 another former SM says: oya

16:25:18 I say: yup

16:25:21 another former SM says: aku tunggu tulisanmu

16:25:38 I say: and now i’m already able to smile again :)

16:26:11 I say: dari semalem pura2 smile doang soalnya :D

16:26:27 another former SM says: good for you

16:26:57 another former SM says: life is too short to worry…

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p