nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 a winner or a champion?

There is a huge difference between a winner and a champion. Many people may become a winner once in a while, but only extraordinary one who will be the champion.

A winner or a champion. Kalimat ini sangat membekas saat siaran episode pertama saya dalam program Rabu sore lalu bersama pakar marketing antipenasaran. Apa yang membedakan seorang pemenang atau winner dengan seorang juara atau champion?

Perbedaannya ada pada konsistensi. Seseorang bisa menjadi pemenang suatu waktu, tapi belum tentu dapat mengulang kembali kemenangan itu. Hanya seorang juara yang mampu meraih kemenangan, lagi dan lagi, berulang-ulang kali. Muhammad Ali, contoh seorang champion tinju. Tiger Woods, contoh seorang champion golf. Michael Jordan, this for sure, contoh seorang champion basket.

Bagaimana seseorang bisa menjadi champion? Disiplin. Inilah satu2nya cara yang bisa memampukan seseorang yang semula tak lebih dari “hanya” pemenang, menjadi seorang yang layak disebut jawara. Tidak populer memang, karena disiplin selalu bicara soal keringat, kerja keras. Dan manusia (bangsa Indonesia khususnya) selalu lebih tertarik pada hal-hal yang indah2 dan instan… atau istilah lain: pemalas?

Disiplin tidak pernah dibahas secara khusus dalam training manajemen manapun. Bandingkan dengan training soal motivasi, leadership dan entrepreneur, yang semakin banyak dicari oleh individu masyarakat maupun oleh perusahaan untuk diberikan kepada karyawan2nya. Menurut penasehat bung marketer antipenasaran, Mpu Peniti, sebabnya adalah tema disiplin sama sekali tidak glamour.

Tetapi, mau tidak mau, harus disetujui bahwa disiplin adalah kunci untuk banyak hal. Semua yang baik dalam kehidupan, menurut Mpu Peniti, selalu dimulai dengan disiplin. Disiplin menabung akan menjadikan kita terbiasa hidup hemat. Disiplin membaca akan membuat kita terbiasa belajar dan berpengetahuan luas. Disiplin bangun pagi akan membiasakan kita hidup rajin (really? Saya harus coba ini -hehehe).

Bagaimana kita bisa belajar disiplin? Ini pertanyaan semua orang, mungkin hampir semua pendengar yang menyimak siaran program Rabu sore itu.

Ada tiga hal. Pertama, karena disiplin menunjukkan pola keteraturan, sangat diperlukan time management. Belajar menghormati waktu; tepat waktu dan tidak pernah terlambat. Belajar buat rencana yang terjadwal. Lama-kelamaan, tidak akan ada lagi waktu yang terbuang percuman dan secara otomatis akan hemat waktu. Kedua, belajar menyusun prioritas. Selain untuk menghemat waktu, cara ini juga akan membuat pekerjaan bersinergi satu dengan yang lain. Pekerjaan akan tersusun berdasarkan sebuah kesinambungan, sehingga output yang dihasilkan akan lebih efektif dan produktif. Ketiga, seperti latihan olahraga, siklus belajar harus dimanfaatkan sebanyak2nya untuk meningkatkan kualitas kerja. Contoh untuk yang biasa berolahraga, lari lebih cepat, melempar bola lebih akurat, atau melawan musuh lebih responsif.

Excellent what we had that day. Thank you, Bung Marketer.

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p