nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 ayat ayat cinta: cerita yang kuat

Alhamdullillah… akhirnya jadi juga aku interview sutradara sebuah film yang menjadi fenomena indah di tanah air sepanjang pekan ini, AYAT AYAT CINTA. Hanung Bramantyo, sang sutradara, dengan simpatik dan lugas membagikan pengalamannya selama pembuatan film kisah cinta yang tidak biasa itu di acara Minggu pagiku hari ini.

Film AAC memang ditunggu-tunggu banyak orang. Bukan hanya oleh kalangan pencinta film tanah air, tetapi juga oleh para pembaca fanatik novel best seller berjudul sama karya Habiburrahman El Shirazy. Sayang aku tak berhasil interview Kang Abik, karena Minggu pagi ini saat acaraku mengudara, beliau sedang ada acara di Surabaya, sementara recorded interview tidak bisa dilakukan sampai Selasa depan.

Anyway… aku senang sekali interview dengan Mas Hanung berjalan sangat lancar, sesuai dengan yang aku harapkan. Keterbukaan Mas Hanung dalam berbagi cerita, membuat interview menarik, aku yakin pendengar senang mendengar cerita di balik pembuatan film itu… bebannya dalam menghadapi harapan pembaca novel AAC; tantangannya untuk menghidupkan tokoh Fahri dalam imajinasi yang berbeda dengan tokoh Fahri dalam novelnya; perjuangannya untuk bisa melakukan syuting di Mesir sesuai dengan setting cerita novelnya (yang kemudian gagal karena biaya ijin untuk syuting di Mesir saja sama dengan biaya untuk syuting 1 film, sekitar 3 milyar rupiah); dan ketidakpuasan yang ia rasakan karena syuting terpaksa dialihkan ke India.

Melihat respon masyarakat yang ternyata menghebohkan, tentu saja Hanung takjub dan heran sendiri. Tak menyangka, di tengah sejumlah kekurangan di sana-sini dan pekerjaan yang ia rasakan belum maksimal, filmnya tetap diterima banyak orang.

Cerita film ini kuat. Itu kesimpulanku ketika selesai menonton Jumat kemarin. Sungguhpun akting para pemainnya “standar” film Indonesia yang masih sering tampak kurang menyatu dengan karakter tokoh yang diperankan, tak bisa dipungkiri film ini cukup berhasil mengaduk-aduk perasaan penonton. Seandainya ceritanya tidak kuat, aku rasa film ini akan bernasib sama dengan kebanyakan film Indonesia yang lain: datar dan nyaris tanpa emosi yang jelas tergambar baik di mimik, suara maupun body language para pemain film kita.

Buatku sendiri, yang secara sengaja juga sedang membaca novel AAC, sebenarnya dari awal ada sedikit kejanggalan yang terlintas di pikiran.

Tidak perlu imajinasi yang terlalu tinggi untuk membayangkan Mesir dalam novel AAC sangat panas, sepanas api yang seakan memanggang ubun-ubun kepala hingga membuat Fahri sampai terkena heat stroke, karena ia selalu memilih komitmen memenuhi janji bertemu orang daripada beristirahat di rumah menghindari debu dan panas yang tidak kenal ampun. Di film, suasana panas itu sama sekali tak terlihat. Malah di scene2 awal, Maria memakai busana dengan syal yang dilingkarkan di leher, wardrobe yang menurutku lebih cocok dikenakan saat temperatur udara sejuk dan dingin.

Yah… okelah, bisa saja scene itu dimaksudkan hanya untuk menggambarkan rekaman moment2 indah yang pernah dilewatkan Maria bersama Fahri, yang mungkin terjadi di musim dingin. Dan mungkin juga semula aku terlalu berharap akan melihat scene2 yang penuh dengan keringat. Jangan salahkan aku, karena novelnya memang menggambarkan seperti itu…

Bagaimanapun juga, menurutku film AAC tetap selangkah lebih baik daripada sebagian besar film Indonesia saat ini. Dibandingkan AADC (ADA APA DENGAN CINTA), film fenomenal yang pertama kali menimbulkan kehebohan di industri film nasional beberapa tahun lalu, AAC lebih “berisi”, film ini tottally definitely mampu menggugah penonton untuk merenungkan lebih dalam makna “cinta” dan “keinginan untuk memiliki” dalam persepsi Islam yang sangat bermoral dan manusiawi.

Wahai Yang Maha Lembut Hatinya… tergelitik juga aku untuk merasakannya…

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p