nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 radio anchor instead of TV anchor

nat to kertas kerja — Tags:  

Rasa-rasanya semua motivator pasti membicarakan hal yang sama: bermimpilah besar. Thank heaven… karena itu pula yang membuat saya yakin dengan pilihan hidup saya, to be a radio anchor, dan tidak coba-coba melamar menjadi presenter berita di televisi.

Bukan karena saya tidak photogenic atau cameragenic (I know I’m a bit too skinny but quite sure that I am both photogenic and cameragenic –haha), juga bukan karena takut tak bisa bersaing masuk ke TV, tapi karena saya tidak yakin radio tidak bisa menghidupi saya, dan tidak rela profesi ini dipandang sebelah mata. Saya merasa kalau saya ikut-ikutan berupaya “melompat” ke TV, itu berarti saya mengamini pandangan orang-orang bahwa penyiar radio adalah profesi “kelas dua” atau bahkan “bukan profesi” bagi sebagian orang. Lebih jauh lagi, itu juga berarti saya mengakui bahwa pilihan saya waktu kuliah dulu kurang tepat untuk menjadi penyiar radio.

No, I won’t do that. At least sampai saat ini saya masih bisa hidup mandiri di kota sebesar Jakarta, cukup dengan gaji utama penyiar radio. Masih bisa ngontrak kamar ber-AC dan selalu melunasi tagihan kartu kredit setiap bulan tanpa tunggakan, masih bisa melancong ke luar negeri meskipun hanya ke negeri jiran, masih bisa menikmati cuti liburan di pantai-pantai indah Indonesia yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, dan–yang paling penting–masih bisa menabung. Voila!

Selain alasan finansial, karakter pribadi juga cukup membuat saya betah berlama-lama di radio. Pada dasarnya, saya bukan orang yang ceplas-ceplos dan terbuka, juga bukan orang yang suka hingar-bingar, keglamoran, atau menjadi perhatian banyak orang. TV terlalu terbuka buat saya, orang akan mengenali wajah dan mengawasi gerak-gerik saya, and it’s really something I don’t feel comfortable with, apalagi kalau sampai harus setiap hari muncul di layar TV dan presenting berita atau acara. Wuiihhh… definitely it’s not me… Sementara di radio, meskipun tetap berbau “publicity”, masih ada “ruang misteri” untuk saya… since audiences can only hear my voice…

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p