nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 a perfect dinner

nat to jurnal  

Kurang dari seminggu lagi, seorang teman baik saya akan terbang 6.600 mil dari Jakarta, kembali ke kampung halamannya di negeri Angela Merkel, untuk training di kantor pusat sekaligus liburan sebentar bersama keluarga.

Trip 2 pekan yang akan dijalaninya nanti ternyata masih harus dilanjutkan dengan seminar 1 pekan di Beijing dan bisnis 1 pekan lagi di Bangkok. So sepertinya saya akan lama sekali baru bisa bertemu dan bersantai lagi dengannya.

Beruntung Minggu sore kemarin saya masih bisa bertemu, bareng2 cari kelapa pesanan ayahnya di Pasar Gondangdia ditemani sopir taksi Blue Bird, belanja bahan2 masakan di Hero Menteng Huis, lalu masak bersama untuk makan malam… mmm… no, actually… he cooked, I watched him :p

Karena saya ‘gagap memasak’ (bahkan nyaris tak bisa sama sekali–hehe), jarang2 saya merasakan kenikmatan memasak seperti semalam… atau barangkali… “memasak-dengan-siapa” mungkin ya yang menyenangkan? Heuheuheuy…

Entahlah apa nama masakannya, dia sendiri juga ga tau, karena cuman eksperimen saja. Tapi untung bisa dimakan dengan lahap, ya iyalah… he is definitely a good cook, at least much better than me…

Saya cukup takjub melihatnya benar2 berpikir mau bikin saus steak seperti apa dan dengan campuran bahan apa. Dia mencampur2kan tumisan bawang Bombay dengan tepung terigu (yang harus dengan berlari2 saya beli lagi ke Hero di seberang apt-nya karena ternyata tepung di lemarinya sudah kadaluarsa). Lalu campuran itu dilarutkan dengan air bekas rebusan broccoli, ditambahkan garam, lada hitam, danmustard

Waktu dia cicip… katanya belum enak. Lalu dia mikir lagi mau ditambah apa. Dia membuka kulkas dan melihat2 bahan apa di dalamnya yang kira2 bisa dicampur, kemudian ga tau bercanda atau ga, dia nyeletuk apa sebaiknya telfon ibunya saja untuk minta advice… ibunya di Jerman(!) tapi memang jago memasak :party:

Melihat apa yang dia lakukan selanjutnya, saya berpikir mungkin memang sebaiknya telfon ibunya saja biar kita cepat makan. Saya berpikir begitu, karena kemudian dia mengambil yoghurt(?!!), memasukkannya ke dalam campuran saus-belum-jadi tadi, menambahkan madu, lalu mengaduk2 dengan tekun. Saya bertanya2 dalam hati akan bagaimana jadinya rasa saus itu nanti?

Lalu dia mencicipi lagi, dan komentar, “mm… ok, good.” Dia menyuapkan satu sendok kecil untuk saya, saya sempat ragu karena belum pernah melihat saus seperti itu sebelumnya, tapi ternyata benar, “Enak.” Saya pun tersenyum dan berbinar karena ga percaya saus-hampir-gagal buatannya itu rupanya memang enak. What an experiment…!

So… it was a perfect dinner, cuman “kurang lilin” aja katanya. Aah… sekarang sudah tak kurang lagi buat saya, karena sudah cukup dia hanya mengatakannya :-*

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p