nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

0 penyiar bukan sih

nat to kertas kerja — Tags:  

Bukan penyiar lagu, bukan penyiar berita. “Paling tidak, ada satu bidang yang (harusnya) bisa kamu kuasai. Lagu, ga tau sama sekali. Berita, masih harus belajar. Jadi kalau ditanya, penyiar apa sebenarnya?”

Kata-kata itu meluncur mulus dari mulut seorang teman baik, mengomentari ketidakmampuan saya yang -ternyata- cukup luar biasa. Bisa jadi teman ini sudah begitu lama memendam keinginan untuk menyampaikan komentar singkat padat dan jujur (baca: pedas dan nyelekit) seperti itu, saking takjubnya (atau kesalnya?) kok kenapa dunia radio, yang lekat dengan image “penyiar adalah orang yang smart dan tau segala sesuatu”, bisa-bisanya terperdaya dan meloloskan seorang seperti saya menjadi penyiar.

Mungkin si teman berpikir, malam itu adalah waktu yang paling pas untuk mengeluarkan pendapat yang jujur, setelah saya -untuk yang kesejutasekian kali- tidak mampu menjawab pertanyaannya tentang judul sebuah lagu dan penyanyinya, yang mengalun dari MP3 ponsel CDMA baru made in Korea miliknya (lagu itu ternyata Something in Your Eyesby Dusty Springfieldand guess what… setengah jam sesudahnya pun saya sudah tak ingat lagi bagaimana refrain-nya). Anyway… seandainya teman ini termasuk salah seorang yang pernah mewawancara saya sebelum menjadi penyiar beberapa tahun lalu, saya rasa itu akan membuat beban hidup saya sedikit lebih ringan, karena saya tinggal meminta pertanggungjawaban darinya: siapa suruh meluluskan saya dulu??

Mungkin saya memang terlalu sok jago masuk ke dunia radio akhir 2000 silam, tapi mungkin juga saya termasuk orang yang paling beruntung di dunia. Hanya bermodalkan keanggotaan dalam Unit Basket Ganesha dan English Club di kampus, ditambah sedikit keyakinan akan dapat menghindari sebisa mungkin uji wawasan tentang musik dan lagu, saya memberanikan diri mengantar surat lamaran ke sebuah radio anak muda, yang berlokasi tidak jauh dari tempat kos saya di Bandung dulu. Ditemani seorang teman kos, yang berhasil saya bujuk untuk ikut melamar (biar ga terlalu berasa single fighter-nya), saya naik angkot sambil mencari lokasi stasiun radio di kawasan Dago Pakar itu. Meski nothing to lose, toh saya agak pede. Yakin bahwa basket dan bahasa Inggris lah yang akan menyelamatkan saya pada seleksi tahap pertama. Radio lokal itu memang berformat sport and music station, bukan radio funky dengan gaya bahasa penyiar yang (maaf) agak “pecicilan” seperti umumnya radio ABG masa kini.

Langkah saya, terhenti di seleksi 5 besar calon penyiar. Waktu itu sudah masuk tahun baru 2001. Cukup mengagumkan. Setidaknya itu kata saya, yang tidak punya pengalaman apa-apa, apalagi kualitas suara yang sama sekali tidak meninggalkan kesan desahan seksi atau berat dan berwibawa, seperti yang selalu kita dengar di radio-radio terkenal. In the end, memang suara yang tipis inilah (bahasa halusnya ahli vokal untuk mengatakan suara Anda cempreng), yang berjasa cukup besar hingga menempatkan saya di luar 3 teman trainee lain yang masuk ke tahap akhir.

Baru pada awal Februari 2003, secara resmi saya bisa mengaku sebagai penyiar radio. Pengalaman setahun pertama di radio bisnis, selanjutnya mengantarkan saya terdampar di radio setengah berita, tempat saya cuap-cuap menggauli microphone sampai saat ini.

Penyiar lagu, bukan. Penyiar berita, masih harus belajar. Lalu kalau ditanya, penyiar apa sebenarnya?

Leave a comment

CommentLuv Enabled
:D :) :( :o 8) :eek: ;-( :grin: :wink: :arrow: :idea: :?: :!: :evil: O:) :-| :-* :-(( :poke: :love: :tired: :emotion: :party: :clown: :worried: X( :p