nat @liachristiedon't pray in my school and i won't think in your church

Ada anak kucing duduk sendirian di dekat motor saya tadi. Di area parkir basement 2 khusus wanita, tinggal tersisa tidak lebih dari 5 motor. Karena hari memang sudah malam, sudah lewat jam 10.

Saya mendekat sambil menirukan suara kucing… meong… meong… Eh dia dengar, trus mencari-cari asal suara dan ikutan memperdengarkan suara mungilnya. Saya gak tahan, akhirnya menunduk dan mengelus-elus dia dulu. Rupanya dia senang. Dia makin menempel-nempelkan badannya ke tangan saya, ke kaki ketika saya bangkit berdiri sambil mengenakan jas hujan.

Dia manjat ke atas motor, merayap lewat sisi-sisi badan motor lalu masuk ke bagian dalam kap tempat duduk yang sedang saya buka, dan berusaha menjangkau saya.

Aduh, kamu mau ikut saya ya?

Tapi saya gak punya keranjang, kalau dimasukin tas nanti kamu mati gak bisa napas. Lagipun ibumu pasti kecarian.

Tapi saya kasihan sama anak itu. Akhirnya saya coba bujuk dia.

Kamu stay here ya, I’ll be back soon. Saya beli susu dulu buatmu, tapi jangan kemana-mana oke?

Lalu saya pergi juga dengan motor. Dia melihat saya pergi. Saya ingatkan dia lagi jangan pergi dulu, tapi dia jalan pelan-pelan ke arah dalam basement.

Tak jauh dari pintu gerbang keluar parkiran, ada Circle K di perempatan jalan. Saya langsung menuju rak minuman ringan, dan ambil satu kotak Ultra Milk. Harap-harap cemas apa si anak kucing balibu (bawah lima bulan—red) masih nungguin saya.

Pak satpam heran kenapa saya balik lagi.

Ada yang ketinggalan, Pak.

Di tempat tadi, anak kucingnya sudah gak ada. Sudah gak ada motor lain juga di sekitar tempat saya bercengkerama dengannya tadi. Saya keluar lagi dengan agak menyesal.

Mestinya tadi saya gak ninggalin dia. Mestinya tadi langsung aja bawa dia ikut beli susu di Sevel kantor.

Tapi kan gak boleh bawa kucing masuk ke Sevel? Belum kalau nanti ditanyain satpam, mau bilang apa?

Excuses are excuses.

Saya terus jalan pulang, berharap besok malam masih bisa ketemu lagi sama si kitten. Ultra Milk saya tinggalkan di dasbor depan.

Di persimpangan lampu merah Tugu Tani, mata saya refleks mencari sesosok tubuh di kursi roda yang biasanya selalu ada di ujung pembatas jalan di tengah-tengah. Kosong. Refleks lagi saya palingkan pandang ke arah trotoar di sebelah kanan.

Ah, itu dia. Tubuh kurus di atas kursi roda itu mengamati lalu-lalang pengendara, diselimuti jas hujan plastik warna biru terang.

Saya melambaikan tangan ke arahnya.

Selepas lampu merah, terdengar lagi perdebatan internal.

Mana kue yang katamu mau kamu kasih ke dia? Udah dari berapa bulan lalu itu? Lebaran sudah lewat. Tahun baru juga udah. 31 hari sudah habis bulan pertama, udah masuk bulan baru malah sekarang.

Ya lupa terus.

Lupa? Atau menunda-nunda?

Ya menunda-nunda juga, karena lupa jadinya tertunda-tunda. Karena baru ingatnya seringnya kalau udah malam pas lihat si masnya di jalan.

Buat kucing aja kamu bisa ya langsung action beli susu, bela-belain balik lagi nyari dia. Itu? Orang yang tiap malam bertegur sapa denganmu, ramah meladeni pertanyaan-pertanyaan ingin tahumu, bahkan beli koran Surat Pembaruan-nya aja kamu gak pernah.

Bukan gitu. Saya gak beli korannya karena saya gak pernah baca koran malam-malam, nyampe rumah biasanya tinggal tidur karena udah ngantuk. Sayang korannya mubazir. Tapi mau ngasi duit aja tanpa beli korannya juga rasanya kayak menghina. Saya gak mau perlakukan dia seperti pengemis, karena dia bukan pengemis.

Excuses are excuses.

Menunda-nunda memang bukan kebiasaan yang patut dipelihara. Apalagi menunda perbuatan baik. Niat aja mah gak akan bikin kamu jadi orang baik. Tapi apa yang sudah kamu lakukan untuk orang lain, dan makhluk hidup lain.

Cempaka Putih. 1 Februari 2016. Larut malam.

0 theater of mind

nat to jurnal  

Penyiar radio itu mirip dengan penulis, gak ketahuan orangnya; cuma dikenali suara, atau tulisannya. Tiap kali audiens mendengar, atau membaca, imajinasi pegang peranan. Dari suaranya, audiens membayangkan penyiarnya seperti apa. Dari tulisannya, audiens membayangkan penulisnya seperti apa.

Saat akhirnya bertemu penyiar yang sering didengar, atau bertemu penulis yang tulisannya sering dibaca, imajinasi audiens seperti berada di ruang taaruf, menunggu wujud asli balon jodoh kayak apa. Ada kalanya imajinasi sesuai dengan realita. Ada kalanya pula—mungkin lebih sering (?)—berlawanan.

“Kamu kecil ya ternyata…” “Wah, sehat yaa… (maksudnya mau bilang ‘bongsor’-Red)”

Apa yang terjadi kalau sekiranya ekspektasikakaknya imajinasitak sesuai realita?

a person in mask (photo grabbed from Google)

a person in mask (photo grabbed from Google)

Dulu, saya pencinta sebuah blog jalan-jalan. Tulisannya unik, seksi. Imajinasi saya, penulisnya smart and sexy. Tiap kali baca blogpostnya, saya membayangkan tokoh yang sedang saya baca itu dengan gambaran fisik yang saya bangun sendiri di angan-angan.

Lama kemudian baru saya tahu dan beberapa kali pernah bertemu langsung dengan penulisnya. Sosok yang menarik dan cukup menyenangkan—meski tidak se-friendly yang semula saya bayangkan, dan, physically, tidak seksi.

Karena kesibukan yang disibuk-sibukkan dan perubahan prioritas hidup kala itu, saya mengurangi—dan pelan-pelan menghentikan aktivitas jalan-jalan terutama ke luar kota, apalagi ke luar negeri. Sejalan dengan itu saya juga sangat mengurangi, dan akhirnya juga berhenti, membaca berita-berita tentang objek wisata, catper, buku atau blog traveling.

Tahun ini, setelah moratorium traveling pribadi saya hapuskan ditandai dengan penggantian paspor yang sudah lama habis masa berlakunya, saya mulai baca-baca lagi, membangun angan-angan perjalanan lagi.

Hari ini saya menemukan kembali blog travel yang dulu saya cintai itu. Saya masih menyukai tulisannya. Saya bahkan mulai tidak hanya sekadar menikmati tulisannya, tapi juga menyimak cara penulisannya. Saya memang punya keinginan untuk bisa menulis cerita perjalanan yang enak dibaca.

Tapi ada yang berbeda kini.

Berhubung saya sudah tahu penulisnya, sosoknya selalu muncul di kepala selama saya membaca. Ketika ia menulis kenapa memilih pergi ke sebuah destinasi secara mendadak, wajahnya yang santai muncul. Ketika ia menulis bingung mencari jalan ke sebuah penginapan, saya melihat ekspresinya tetap tenang (saking telah sangat berpengalaman traveling) dan kemudian sedikit kesal ketika yang dicari-cari gak ketemu. Saat ia menulis berkenalan dengan pria gagah, lengkap dengan komentar genit khasnya—yang dulu membuat saya menilainya seksi—di situlah konflik batin terjadi. Imajinasi saya kalah, oleh realita. Saya perlu sedikit usaha lebih keras untuk menyelesaikan bacaan itu.

Spontan saya berpikir, bagaimana dengan pendengar saya? Berapa banyak dari mereka yang merasa “kecil (baca: kurus) sekali ya rupanya…” begitu melihat wujud asli saya?

Barangkali, memang ada perlunya sesekali posting foto-foto narsis di akun sosmed yang dibuka ke publik. Meskipun pendengar, atau pembaca, belum tentu mengakses akun-akun sosmed, setidaknya seseorang yang biasanya selalu tak terlihat di balik layar tidak melulu menjadi anonim.

Tapi yaa… ini cuma pemikiran acak saja, yang mungkin lahir dari kepanikan sesaat.

Kebon Sirih, Jakarta Pusat

Sejak hobi traveling sekitar tujuh tahun silam (masih newbie ya—hehe), rasanya semua destinasi yang pernah saya datangi ingin saya kunjungi lagi dan lagi. Kalau saja uang bukan persoalan besar, pasti saya sudah akan napak tilas sekali, dua kali, bahkan lebih, ke tempat-tempat itu. Ada yang karena attraction and venue-nya masih banyak yang belum tereksplorasi, ada juga yang sedikit tetapi sangat memorable atau meninggalkan kesan khas tertentu.

Makanya saya cukup kecewa saat turun dari mobil tiba di penginapan di Teluk Kiluan, Lampung, tiga pekan lalu. Perjalanan lebih dari dua jam dari Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, menuju Teluk Kiluan, Kabupaten Tanggamus, nyaris tidak bisa saya nikmati karena begitu rusaknya akses jalan ke salah satu objek wisata utama di Provinsi Lampung itu. Jangankan menikmati kampung warga di kiri kanan jalan, tidur pun tidak bisa saking mobil terguncang-guncang keras di jalan penuh lubang dengan tingkat keparahan sangat berat. Menurut tour leader kami, kondisi itu masih sama (atau mungkin lebih parah) dibandingkan kondisi 2-3 tahun lalu, ketika ia pertama kali datang.

(more…)

“Katanya jalan ke surga memang kayak gini, Mba.”

Celetuk seorang pemuda lokal yang berpapasan dengan kami di antara bebatuan karang melihat saya kepayahan menapakkan kaki telanjang ke satu demi satu bongkahan batu-batu besar dan licin, menyusuri dinding bukit Teluk Kiluan menuju Laguna Gayau. Saya tertawa kecil, menyembunyikan rasa penasaran. Seperti apa sih tempat yang kami tuju ini?

Titik masuk Laguna Gayau

Titik masuk Laguna Gayau

(more…)

0 do i plan to get married

nat to jurnal — Tags: ,  

This pretty much sums up a conversation I had with a friend, at one casual dinner last night…

“Are you dating someone?”

“Sekarang? Nggak.”

“Not even ………?”

“No.”

“Wow. Don’t you have a plan to get married?” Wow. What a question.

“Do I have a plan to get married? No.”

“Seriously? No?”

“No.” Aku menggeleng.

“So it’s like, you plan to live alone forever?” Ohmaigosh. Haha.

“That’s not what I’m saying. Of course I want to find someone. The right one. But if you’re asking me whether marriage is my priority, the answer is: No. Yang lebih penting buat gue adalah siapa orangnya, bukan meritnya.”

“Kalo ada yang datang ngelamar, lo mau nggak?”

“Itu… tergantung guenya ya gimana ke dia. Kalau gue ngerasa emang dia orangnya, ya oke… kalau nggak, ya nggak. Yang jelas ya, gue gak mau merit karena ngerasa terpaksa, terdesak, ditekan… oleh apapun. Lingkungan, umur, status, atau karena orang bilang apa lah.”

For god sake. Apa artinya penantian sepanjang ini kalau ujung-ujungnya cuman untuk merit karena merasa tak punya pilihan lain? Would you want to end up sucks like everyone else in their unhappy marriage just to feel sort of “complete”? No, not in Libra influences.

0 mengindahkan pribadi

nat to spasi — Tags:  

Jam segini belum tidur. Masih ngoprek-ngoprek laptop yang mau dibawa adik pergi training ke Palembang pagi ini sampai tiga hari ke depan. Bisi aya nu teu elok ditingali, jadi weh dibersihin. Aheeemm…

Dan so, saya ketemu sebait dua tulisan di bawah ini. Kutipan dari Mario Teguh. Saya bukan penggemar Mario Teguh, tapi juga tak malu menyukai sebagian pernyataannya bila memang saya rasa tepat dan relevan.

Sekarang saya baca kembali, rasanya biasa saja, gak ada makna apa-apa. Tapi saya yakin ada satu alasan tertentu dulu sehingga saya menuliskannya secara khusus di komputer. Meski sudah tak lagi ingat apa itu, tak ada salahnya disimpan di jurnal online ini.

Bersedihlah sendiri, tapi rayakanlah kebahagiaanmu bersama mereka yang kau cintai. Upayakanlah untuk tidak membebankan gelisah hatimu kepada siapa pun. Mereka memiliki masalah mereka sendiri, dan bahkan mungkin lebih memedihkan daripada yang mereka tampilkan.

Indahkanlah pribadimu. Jadikanlah kehadiranmu hadiah yang menggembirakan sesamamu, agar kebahagiaanmu menjadi urusan langsung Tuhanmu.

Sesungguhnya, engkau pun tahu bahwa hatimu baik sekali.

0 i and my people

nat to spasi — Tags:  

There were times, not just once, when a guy told me that I was too kind. Way too kind. Should’ve been flattered, perhaps. I was not. This guy then tried to explain that every “kind” thing I had done such as caring, attention, tolerance, even understanding and all supports that I once gave him might be redundant.

Maybe it’s right. Maybe it’s not. Maybe that’s just what I’m all about; my identity, my tendency, my needs.

Reading what this so-called “TeamLibraFacts” elaborate on their page, I’m quite sure they are talking about what I-and-my-people are about:

Kenyataan adalah bagaimana kamu menjustifikasi mimpimu. Kata seorang sahabat dalam sebuah percakapan WhatsApp dua pekan lalu. Tahun 2014 ini menandai terjustifikasinya mimpi panjang saya dua tahun terakhir: menjadi volunteer di Ubud Writers and Readers Festival.

Perkenalan dengan nama Ubud Writers and Readers Festival terjadi beberapa tahun lalu dari kelompok teman jalan dan kuliner saya, Lenongers. Sebagian dari mereka hobi baca, dengan genre yang berbeda-beda. Ada yang doyan sastra-politik-dan apa saja, ada yang suka ekonomi syariah, ada yang demen roman dan sejarah. Macam-macam. Kapan-kapan saya akan tulis tentang mereka.

Salah satu Lenonger, Tri, mendaftar volunteer di UWRF 2012. Dari situ lah baru saya cari tahu lebih banyak soal festival yang mulai digelar pasca bom Bali 2003 ini. Sedianya saya mendaftar 2013 lalu, tapi terhambat satu dan lain hal.

(more…)

Bila saja benar rumor yang mengatakan Reza Rahadian dibayar sangat tinggi untuk Pendekar Tongkat Emas (PTE), dia layak mendapatkannya. Reza, my Reza, memberi nyawa pada film yang diklaim bergenre silat klasik ini. Seperti di film-filmnya yang lain, Reza seperti tak perlu usaha untuk berakting dahsyat di depan kamera tanpa sedikit pun terlihat dibuat-buat, bermimik dingin kadang kalem kadang datar, ber-tone suara rendah penuh kendali, beraura bengis otoriter, menakutkan hingga ingin dihindari, dijauhi, daripada bertemu hanya untuk dihabisi. A surreal. A natural born.

Reza memang selalu bayar harga. Demi mencapai keterampilan berakting senatural itu dia belajar sangat total, berlatih sangat keras (untuk film ini sampai tujuh bulan latihan muay thai dan wushu). Reza, is the future of Indonesian movies. Uhm… no. He is actually the soul of current Indonesian movies. Reza adalah pilihan paling tepat yang diambil oleh Mira Lesmana, Riri Riza, dan Ifa Isfansyah.

Pendekar Tongkat Emas

Pendekar Tongkat Emas

(more…)

Hari ini Menteri Anies Baswedan mengatakan sesuatu yang “bunyi” di telinga saya. Menurutnya, pendidikan sastra selama ini cenderung disepelekan dan masyarakat kurang sekali menaruh perhatian pada sastra.

Jumlah bacaan sastra anak SMP dan SMA masih sangat minim dibandingkan seharusnya.

Belajar bidang apapun, kemampuan menulis sangat penting. Anda jadi insinyur tapi menulis indah, maka karya Anda akan jadi luar biasa. Di sisi lain, kemampuan anak menulis jangan diarahkan untuk jadi profesi penulis saja.

Saya tak bisa lebih setuju. (maksudnya mau bilang, “Couldn’t agree more.” –haha)

(more…)